Kisah Dulunya Perampok Jadi Ulama'
Teman-teman yang dirahmati Allah ta’ala, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menukil sebuah kisah yang sangat menyejukkan hati, yang beliau goreskan di dalam kitabnya Siyar a’lamun Nubala. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu ‘Ammar al-Husain bin Harits dari al-Fadhl bin Musa. Beliau al-Fadhl bin Musa mengisahkan:
“Dahulu al-Fudhail bin ‘Iyadh adalah seorang perampok yang menghadang orang-orang di jalan antara daerah Abiwarda dengan Sarkhos. Sebab taubatnya beliau adalah beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, ketika beliau tengah memanjat tembok untuk menemui (mengintip) wanita tersebut, tiba-tiba beliau mendengar seseorang melantunkan firman Allah ta’ala:
(أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ ..)
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah..” (surah al-hadid 16)
Maka tatkala beliau mendengar lantunan ayat tersebut, beliau langsung berkata: “Tentu saja wahai Rabb-ku, sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mengingat Allah).”
Lalu beliau pun kembali dan beristirahat di sebuah bangunan yang sudah rusak. Tiba-tiba ada sekelompok orang yang sedang lewat.
Sebagian dari mereka mengatakan, “Kita jalan terus.”
Sebagian yang lain mengatakan, “Kita istirahat saja dulu sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, yang akan menghadang dan merampok kita.”
Mendengar hal itu lalu Fudhail berkata: “Kemudian aku merenung dan berucap, ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (yaitu mengintip wanita-pent) padahal sebagian kaum muslimin di sini ketakutan kepadaku (karena mengira Fudhail sedang menghadang mereka-pent) dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini kecuali agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Yaa Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku ini dengan tinggal di Baitul Haram.’ ”
(siyar a’lamun nubala’ juz 8/421)
MasyaAllah, kisah yang penuh dengan ibroh (pelajaran), setelah itu beliau semangat belajar dan menjadi seorang ulama’ pada zaman tabi’in yang dalam ilmunya.
Beliau dilahirkan di Samarqand dan dibesarkan di Abiwarda yaitu suatu daerah di Khurosan. Tidak ada riwayat yang jelas kapan beliau dilahirkan, tetapi beliau pernah menyatakan bahwa umur beliau waktu itu 80 tahun. Setelah taubat, beliau kemudian berjalan menuntut ilmu ke Kufah dan mencatat ilmu di sana lalu melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Mekkah dan menetap di Mekkah hingga beliau wafat pada bulan Muharram tahun 187 H.
Seorang ulama’ bernama Ibnul Mubarok rahimahullah pernah berkata:
“Menurutku, tidak ada yang tersisa lagi di muka bumi ini seorangpun yang lebih utama dari al-Fudhail bin ‘Iyadh.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar