Jumat, 13 November 2015

Akhlaq dan Adab

 

3 untuk Ibu dan 1 untuk Ayah


Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa berbakti kepada kedua orang tua hukumnya adalah wajib. Seorang anak wajib mentaati kedua orang tuanya selama bukan dalam hal kemaksiatan. Seorang anak wajib melakukan segala yang diperintahkan kedua orang tua selama bukan dalam perkara yang dilarang.

Betapa sering kita tidak mengindahkan hal ini. Betapa sering kita merasah gundah ketika Ayah Ibu kita menyuruh kita untuk membelikan sesuatu ke warung misalnya. Kita disuruh membelikan gula misalnya. Malah kita lebih berat asyik nonton film, malah kita lebih suka mainan HP, dan malahan-malahan yang lainnya.

Walaupun kita berangkat, lebih sering kita bermuka masam, lebih sering kita ngomel dahulu, lebih sering kita malah menyalahkan kedua orang tua kita. Dan kesemua ini menyakitkan hati Ayah Ibu kita. Untuk itu marilah kita ubah sikap kita, marilah kita benahi akhlak kita agar kita bisa membuat Ayah Ibu kita senang, membuat Ayah Ibu kita bangga. Salah satu contohnya ketika kita disuruh, maka sesegera mungkin kita laksanakan perintah itu.

Ayah dan Ibu memang sudah kita tahu bahwa dengan sebab merekalah kita ada di dunia ini. Dan dari hal ini ada orang yang peranannya sangat dahsyat pentingnya kepada kita, yaitu seorang ibu. Dimana seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi anaknya ketika melahirkan. Lihatlah ketika proses kelahiran. Betapa ibu berusaha sekuat tenaga agar anaknya bisa terlahir. Ketika ada peristiwa kalau yang selamat diantara anak dan ibu adalah salah satu dari keduanya, maka dengan ikhlasnya dan dengan tulusnya Ibu akan mengatakan agar anaknya yang selamat. ya inilah Ibu.

Kita renungi firman Allah Ta’ala dalam surah Luqman ayat 14:

ﻭَﻭَﺻَّﻴْﻨَﺎ ﺍﻹﻧْﺴَﺎﻥَ ﺑِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻪِ ﺣَﻤَﻠَﺘْﻪُ ﺃُﻣُّﻪُﻭَﻫْﻨًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﻫْﻦٍ ﻭَﻓِﺼَﺎﻟُﻪُ ﻓِﻲ ﻋَﺎﻣَﻴْﻦِ ﺃَﻥِﺍﺷْﻜُﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻚَ ﺇِﻟَﻲَّ ﺍﻟْﻤَﺼِﻴﺮُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Dari ayat ini kita tahu kewajiban birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Dan juga bagaimana Allah menyebutkan tentang keutamaan seorang ibu. diantaranya:

1. kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada ibu-bapak.
2. ibu kita telah mengandung kita dalam kondisi lemah.
3. dan ibu yang menyapih kita.

kita dapatkan Ibu disebutkan 3 keutamaan sedangkan Ayah disebutkan 1 keutamaan. Ya inilah utamanya seorang ibu dari seorang ayah. Ibu banyak merasakan keletihan daripada seorang ayah. Dan banyak lagi.

Kita simak juga dalam sebuah hadits dari shahabat Nabi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku.?’
beliau menjawab, ‘Ibumu’
dia bertanya lagi, ‘kemudian siapa?’
beliau menjawab, ‘Ibumu’
dia bertanya lagi, ‘kemudian siapa.?’
beliau menjawab, ‘Ibumu’
dia bertanya lagi, ‘kemudian siapa?’
beliau menjawab, ‘kemudian ayahmu.”
(HR Bukhari no. 5514)

Dari hadits ada faedah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menjelaskan begitu agungnya begitu mulianya seorang ibu.,

Yang terakhir para ulama’ menyebutkan 3 hal yang seorang ayah tidak merasakan dalam mendapatkan anak:

1. lelahnya seorang ibu ketika hamil.
2. tatkala seorang ibu melahirkan.
3. tatkala seorang ibu menyusui.

Inilah penjelasan tentang keutamaan ibu. Akan tetapi bukan berarti kita melalaikn berbakti kepada ayah.

Allahu a’lam
semoga bermanfaat.

artikel: pelajar-ipmb.net

Akhlaq dan Adab


Berbakti Kepada Kedua Orang Tua



Orang tua adalah orang yang pertama kali berbuat baik kepada anaknya. Semenjak di kandungan bahkan sampai dewasa pula. Orang tua adalah orang yang rela berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, sampaipun mengorbankan nyawanya. Orang tua adalah orang yang rela melakukan apa saja demi kebaikan anaknya.

Terus, sudahkah kita berbuat baik kepada kedua orang tua kita.? sudahkah kita berbakti kepada keduanya.?

Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam surah al isra’ ayat 23-24:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” “

Di sini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyandingkan agar kita tidak berbuat syirik atau agar kita mentauhidkan Allah dengan berbakti kepada kedua orang tua. Inilah agungnya berbakti kepada orang tua. Itu artinya Allah menyuruh kita setelah mentauhidkan Allah, agar
 kita berbakti kepada Ayah Bunda kita.

Berbuat baik atau berbakti di sini adalah dari semua sisi termasuk perkataan dan perbuatan. Karena dengan sebab orang tualah kita ada di dunia ini. dan juga atas cintanya dan perbuatan baiknya kepada kita.

Allah juga menjelaskan bahwa kita tidak boleh mengatakan kepada Ayah Ibu kita perkataan “ah” atau “cih” atau yang semakna dengan itu. Ini saja Allah mengharamkan apalagi sampai membentak keduanya. Ini saja termasuk durhaka kepada Ayah Ibu apalagi sampai mengeraskan suara kepada mereka. Maka hendaklah kita bertutur kata yang baik. Melembutkan suara, berperangai yang baik ketika hendak berbicara dengan keduanya.

kemudian mari di setiap tangan kita menengadah berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla kita do’akan Ayah Ibu kita. Kita do’akan ampunan untuk keduanya. kita do’akan agar Allah merahmati keduanya. kita do’akan agar Allah menjauhkan keduanya dari api neraka dan memasukkannya ke dalam surga. kita do’akan dan kita do’akan untuk kebaikan Ayah Ibu kita.,

Allahu a’lam.,
semoga bermanfaat..

artikel: pelajar-ipmb.net

Fawaid

Ilmu Lebih Mulia daripada Harta


Khalifah keempat shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah berkata:

.:”Ilmu itu lebih baik daripada harta.

.: Ilmu itu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya.

.: Ilmu itu semakin berkembang jika diinfaqkan, sedangkan harta akan berkurang jika dinafkahkan.

.: Ilmu adalah yang mengaturmu, sedangkan harta engkaulah yang akan mengaturnya.

.: Mencintai ilmu adalah agama yang seseorang itu beribadah dengannya.

.: Ilmu akan membuahkan ketaatan di dalam kehidupan pemiliknya serta mengharumkan namanya setelah ia meninggal dunia.

.: Kebaikan para pemelihara harta akan melenyap bersamaan dengan kepergiannya.

.: Para penimbun harta (pada hakikatnya) telah mati (meskipun) mereka itu masih hidup.

.: Adapun para Ulama’ tetap kekal sepanjang masa. Jasad mereka telah tiada, namun kenangan tentang mereka senantiasa melekat di hati manusia.”

(Durus fiil Qira’ah al Mustawa rabi’)

artikel: pelajar-ipmb.net

Aqidah

Macam-macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah, adalah Islam, Iman, dan Ihsan. Termasuk pula do’a, khauf (takut), raja’ (rasa harap), tawakal, raghbah (harapan yang sangat), rahbah (takut yang sangat), khusyu’, khasyyah (takut yang didasari ilmu), inabah (kembali dan bertaubat), isti’anah (meminta pertolongan), isti’adzah (meminta perlindungan), istighatsah, dzabh (sembelihan), nadzar, dan selainnya dari macam-macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah, semua ibadah tersebut hanyalah dipersembahkan untuk Allah semata.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻟﻠﻪ ﻓﻼ ﺗﺪﻋﻮﺍ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪﺍ

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik dan untuk Allah, maka janganlah kalian berdo’a bersama Allah dengan sesuatupun.”
(surah al-jin 18)

Sehingga barangsiapa yang memalingkan dan mempersembahkan ibadah-ibadah tersebut sedikit saja kepada selain Allah, maka dla telah musyrik kafir.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﻣﻦ ﻳﺪﻉ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻬﺎ ءﺍﺧﺮ ﻻ ﺑﺮﻫﻦ ﻟﻪ ﺑﻪ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺣﺴﺎﺑﻪ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻪ ﺇﻧﻪ ﻻ ﻳﻔﻠﺢ ﺍﻟﻜﻔﺮﻭﻥ

“Dan barangsiapa beribadah kepada selain Allah bersama Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”
(surah al-mu’minun 117)

Dan di dalam hadits:

ﺍﻟﺪﻋﺎء ﻣﺦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ

“Do’a adalah inti ibadah.”

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺑﻜﻢ ﺍﺩﻋﻮﻧﻲ ﺃﺳﺘﺠﺐ ﻟﻜﻢ ﺇﻥ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺴﺘﻜﺒﺮﻭﻥ ﻋﻦ ﻋﺒﺎﺩﺗﻲ ﺳﻴﺪﺧﻠﻮﻥ ﺟﻬﻨﻢ ﺩﺍﺧﺮﻳﻦ

“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’a kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku ia akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.”
(surah ghafir 60)

Dalil yang menyatakan bahwa khauf (rasa takut) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻓﻼ ﺗﺨﺎﻓﻮﻫﻢ ﻭﺧﺎﻓﻮﻥ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﻣﺆﻣﻨﻴﻦ

“Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
(surah ali imron 175)

Dalil yang menyatakan bahwa raja’ (berharap) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺮﺟﻮﺍ ﻟﻘﺎء ﺭﺑﻪ ﻓﻠﻴﻌﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﺻﻠﺤﺎ ﻭﻻ ﻳﺸﺮﻙ ﺑﻌﺒﺎﺩﺓ ﺭﺑﻪ ﺃﺣﺪﺍ

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”
(surah al-kahfi 110)

Dalil yang menyatakan bahwa tawakal termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺘﻮﻛﻠﻮﺍ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﻣﺆﻣﻨﻴﻦ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
(surah al-maidah 23)

Dan firman Allah ta’ala:

ﻭﻣﻦ ﻳﺘﻮﻛﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺣﺴﺒﻪ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”
(surah ath-thalaq 3)

Dalil yang menyatakan bahwa raghbah, rahrab, dan khusyu’ termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﺇﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺮﻋﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻴﺮﺕ ﻭﻳﺪﻋﻮﻧﻨﺎ ﺭﻏﺒﺎ ﻭﺭﻫﺒﺎ ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻟﻨﺎ ﺧﺸﻌﻴﻦ

“Sesungguhnya mereka (para nabi) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.”
(surah al-anbiya’ 90)

Dalil yang menyatakan bahwa khasyyah termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻓﻼ ﺗﺨﺸﻮﻫﻢ ﻭﺍﺧﺸﻮﻧﻲ

“Maka janganlah kalian takut kepada mereka akan tetapi takutlah kepada-Ku saja.”
(surah al-baqarah 150)

Dalil yang menyatakan bahwa inabah termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﺃﻧﻴﺒﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺭﺑﻜﻢ ﻭﺃﺳﻠﻤﻮﺍ ﻟﻪ

“Dan kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah diri lagi kepada-Nya.”
(surah az-zumar 54)

Dalil yang menyatakan bahwa isti’anah (meminta pertolongan) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﺇﻳﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ ﻭﺇﻳﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
(surah al-fatihah 5)

Dan dalam hadits:

ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﻌﻨﺖ ﻓﺎﺳﺘﻌﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ

“Jika engkau ber-isti’anah (meminta pertolongan) maka isti’anah-lah kepada Allah.”
(HR at-tirmidzi)

Dalil yang menyatakan bahwa isti’adzah (meminta perlindungan) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻔﻠﻖ

“Katakanlah, ‘aku ber-isti’adzah (berlindung) kepada Rabb yang menguasai shubuh.’ “
(surah al-falaq 1)

Dan firman Allah ta’ala:

ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ

“Katakanlah, ‘aku berlindung kepada Rabb manusia.’ “
(surah an-naas 1)

Dalil yang menyatakan bahwa istighatsah termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﺇﺫﺍ ﺗﺴﺘﻐﻴﺜﻮﻥ ﺭﺑﻜﻢ ﻓﺎﺳﺘﺠﺎﺏ ﻟﻜﻢ

“Ingatlah ketika kalian ber-istighatsah (memohon pertolongan) kepada Rabb kalian, lalu Dia mengabulkannya.”
(surah al-anfal 9)

Dalil yang menyatakan bahwa dzabh (menyembelih) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻗﻞ ﺇﻥ ﺻﻼﺗﻲ ﻭﻧﺴﻜﻲ ﻭﻣﺤﻴﺎﻱ ﻭﻣﻤﺎﺗﻲ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﻦ، ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ﻭﺑﺬﻟﻚ ﺃﻣﺮﺕ

“Katakanlah, ‘sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri.’ “
(surah al-anfal 162-163)

Dan dalil dari sunnah:

ﻟﻌﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺫﺑﺢ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”

Dalil yang menyatakan bahwa nadzar termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻳﻮﻓﻮﻥ ﺑﺎﻟﻨﺬﺭ ﻭﻳﺨﺎﻓﻮﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺷﺮﻩ ﻣﺴﺘﻄﻴﺮﺍ

“Mereka menunaikan nadzar dan takut terhadap suatu hari yang adzabnya merata dimana-mana.”
(surah al-ihsan 7)

[ats-tsalatsatul ushul hal 8-13]

artikel: pelajar-ipmb.net

Aqidah

Ketahuilah -semoga Allah membimbing anda untuk taat kepada-Nya- bahwasanya al-hanifiyyah adalah agama nabi Ibrahim alaihissalam yaitu anda beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Untuk tujuan inilah Allah memerintahkan seluruh manusia dan menciptakan mereka.

Sebagaimana firman Allah ta’ala:

ﻭﻣﺎ ﺧﻠﻘﺖ ﺍﻟﺠﻦ ﻭﺍﻹﻧﺲ ﺇﻻ ﻟﻴﻌﺒﺪﻭﻥ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(surah adz-dzariyat 56)

Makna (ﻟﻴﻌﺒﺪﻭﻥ) “beribadah kepada-Ku.” yaitu “mentauhidkan-Ku.”

Perkara utama yang Allah perintahkan adalah tauhid yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Sedangkan larangan terbesar yang Allah larang adalah syirik yaitu beribadah kepada Allah dan selain-Nya sekaligus.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﺍﻋﺒﺪﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺗﺸﺮﻛﻮﺍ ﺑﻪ ﺷﻴﺌﺎ

“Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
(surah an-nisa’ 36)

Apabila anda ditanya, “Apakah al-ushul ats-atsalatsah (tiga landasan pokok) yang wajib diketahui oleh manusia?”

Maka jawablah, “Seorang hamba mengenal Rabbnya, agamanya, dan nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Apabila anda ditanya, “Siapakah Rabb anda?”

Maka jawablah, “Rabb-ku adalah Allah yang memeliharaku dan memelihara seluruh alam semesta dengan berbagai kenikmatan-Nya. Dialah sesembahanku, tidak ada sesembahan bagiku selain-Nya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﻦ

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”
(surah al-fatihah 2)

Segala sesuatu selain Allah adalah alam dan aku adalah salah satu bagian dari alam tersebut.

Apabila anda ditanya, “Dengan apa anda mengenal Rabb anda?”

Maka jawablah, “Dengan ayat-ayat dan tanda-tanda-Nya serta dengan para makhluk-Nya. Diantara ayat-ayat dan tanda-tanda itu adalah adanya malam, siang, matahari, dan bulan. Dan diantara para makhluk-Nya adalah tujuh langit, tujuh bumi, dan segala yang berada diantara keduanya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﻣﻦ ءﺍﻳﺘﻪ ﺍﻟﻴﻞ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻭﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮ ﻻ ﺗﺴﺠﺪﻭﺍ ﻟﻠﺸﻤﺲ ﻭﻻ ﻟﻠﻘﻤﺮ ﻭﺍﺳﺠﺪﻭﺍ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻘﻬﻦ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﺇﻳﺎﻩ ﺗﻌﺒﺪﻭﻥ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, bulan. Janganlah kalian menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang telah menciptakannya, jika kalian benar-benar hanya beribadah kepada-Nya.”
(surah fushshilat 37)

Dan firman Allah ta’ala:

ﺇﻥ ﺭﺑﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺴﻤﻮﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻳﻐﺸﻰ ﺍﻟﻴﻞ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻳﻄﻠﺒﻪ ﺣﺜﻴﺜﺎ ﻭﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮ ﻭﺍﻟﻨﺠﻮﻡ ﻣﺴﺨﺮﺕ ﺑﺄﻣﺮﻩ ﺃﻻ ﻟﻪ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻭﺍﻷﻣﺮ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺰﻣﻴﻦ

“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap bagi kalian, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghasilkan segala buah-buahan dengan hujan itu sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu janganlah kalian membuat tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui.”
(surah al-baqarah 21-22)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Pencipta segala sesuatu inilah Dzat yang berhak untuk diibadahi dan disembah.”

[ats-tsalatsatul ushul hal 4-8]

artikel: pelajar-ipmb.net