Minggu, 15 November 2015

Nashihah

Memaklumi Orang Lain


Faedah dari Abu Qilabah Abdullah bin Zaid al-Jurni

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له العذر جهدك فإن لم تجد له عذرا فقل في نفسك لعل لأخي عذرا أعلمه

“Jika anda mendapatkan kabar miring tentang seorang muslim maka hendaknya anda bersusah payah untuk memakluminya dengan mengatakan dalam hati ‘boleh jadi dia punya pertimbangan demikian atau demikian’.

Jika setelah bersusah payah anda tidak mendapatkan hal-hal yang bisa jadi alasan orang tersebut melakukan apa yang dia lakukan maka katakanlah dalam hati ‘boleh jadi beliau punya alasan yang belum aku ketahui’.”

(hilyah al-auliya’ 2/285)

artikel: www.pelajar-ipmb.net

Nashihah

Menaklukkan Hati dengan Ilmu

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullahu ta’ala berkata:

إن في نشرك للعلم نشر لدين الله، فتكون من المجاهدين في سبيله، لأنك تفتح القلوب بالعلم، كما يفتح المجاهد البلاد بالسلاح والإيمان

“Sesungguhnya dalam usahamu menyebarkan ilmu syar’i, sama dengan menyebarkan agama Allah, maka engkau termasuk mujahid (pejuang) di jalan Allah, karena engkau membuka hati dengan ilmu, sebagaimana mujahid menaklukkan negeri dengan senjata dan iman.”

(syarhu du’ai qunutil witr, hal 12)

artikel www.pelajar-ipmb.net

Fawaid


Usia 10 Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


Usia 10 Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling awal masuk Islam sekaligus dijamin
 masuk surga oleh Nabi dalam satu hadits. Ini adalah usia mereka saat masuk Islam:

shahabat nabi1. Abu Bakar ash-Shiddiq 37 tahun
2. ‘Umar bin Khoththob 27 tahun
3. ‘Utsman bin ‘Affan 34 tahun
4. ‘Ali bin Abi Thalib 10 tahun
5. Thalhah bin ‘Ubaidillah 14 tahun
6. Zubair bin Awwam 16 tahun
7. Sa’ad bin Abi Waqqosh 17 tahun
8. Sa’id bin Za’id 15 tahun
9. Abu ‘Ubaidah bin Jarrah 27 tahun
10. ‘Abdurahman bin Auf 30 tahun

Usia tertua para pembela Nabi dan generasi terbaik dari para shahabat adalah 37 tahun (usia Abu Bakar). Hanya ada dua orang yang usianya di atas 30 tahun; Abu Bakar ash-Shiddiq dan ‘Utsman bin ‘Affan. Sementara ‘Abdurahman bin Auf pas berusia 30 tahun. Dan tujuh orang di bawah 30 tahun. Dari tujuh orang itu, hanya dua orang yang usianya di atas 20 tahun; ‘Umar bin Khoththobb dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah (27 tahun). Dan sisanya –subhanallah– berusia di bawah 20 tahun (10 – 17 tahun). MasyaAllah

repost Parenting Nabawiyah

Para pemuda shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya diantaranya ‘Abdullah bin Mas’ud (14 tahun) yang menjadi ahli tafsir terkemuka, Sa’ad bin Abi Waqqosh (17 tahun) yang menjadi panglima perang yang menundukkan Persia, Ja’far bin Abi Thalib (18 tahun), Zaid bin Haritsah (20 tahun), Mush’ab bin ‘Umair (24 tahun), dan pada masa setelahnya kita mengenal Muhammad al-Fatih (24 tahun) telah menaklukkan kontantinopel. Mereka semua adalah para pemuda pada masa lalu yang memiliki peranan
 sangat penting dan memberikan hasil dari peranannya sangat luar biasa.

artikel: pelajar-ipmb.net

Fawaid


Kisah 8 Dirham

 

Pembaca yang dirahmati Allah ta’ala, Imam as-Suyuti rahimahullah menukil sebuah kisah yang sangat inspiratif dan motivatif yang terjadi ketika zaman khalifah yang ke-4, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala ‘anhu di dalam kitabnya Tarikh al-Khulafa’. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thobroni dari Zihr bin Hubaisy.

Dikisahkan bahwa ada dua orang yang sedang duduk-duduk untuk makan siang bersama berupa roti. Orang pertama memiliki 5 roti sedangkan orang kedua memiliki 3 roti. Ketika mereka berdua makan, ada seseorang yang datang dan mengucapkan salam kepada mereka berdua. Lalu mereka berdua mengatakan,”Mari kesinilah, duduk bersama kami untuk menikmati makan siang.” Dan orang itupun makan bersama mereka berdua. Ketiga orang itu makan dari delapan 8 roti tadi dan masing-masing mendapat bagian yang sama. Setelah mereka selesai makan, berdirilah orang ketiga tadi yang akan hendak pergi dan mengeluarkan uang 8 dirham, “Ambillah uang ini, sebagai ganti atas roti yang aku makan tadi.” Kata orang itu kepada mereka berdua dan diberikannya uang itu kepada mereka berdua.

Mulailah mereka berdua berseteru siapa yang berhak atas uang 8 dirham itu.

Si pemilik 5 roti mengatakan,”Aku berhak atas 5 dirham dan engkau 3 dirham.”

Si pemilik 3 roti mengatakan,”Aku tidak ridha kecuali uang 8 dirham itu kita bagi dua sama rata.”

Sampailah pertengkaran itu kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Lalu mereka berdua menceritakan perseteruan itu kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala a’nhu.

Berkatalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala a’nhu kepada si pemilik 3 roti,”Temanmu telah menawarkan apa yang ia tawarkan, dan rotinya lebih banyak dari rotimu, maka ridha-lah dengan 3 dirham itu.”

Si pemilik 3 roti menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan ridha kecuali dengan pembagian yang benar dan adil.”

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala a’nhu berkata,”Tidak ada pembagian yang benar dan adil kecuali engkau mendapat 1 dirham dan temanmu mendapat 7 dirham.”

“Subhanallah.!” kata si pemilik 3 roti.

“Dia berhak atas itu.” jawab Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala a’nhu.

“Jelaskan kepadaku bagaimana bisa begitu sampai aku ridha.” kata si pemilik 3 roti.

Kemudian khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala a’nhu menjelaskan kepadanya, “Bukankah 8 roti itu adalah 24/3 ? Dan hanya kalian bertiga yang memakan 8 roti itu? Dan diantara kalian tidak ada yang makan lebih banyak ataupun lebih sedikit? Semua makan dengan bagian yang sama?
Dan engkau makan 8/3 roti, serta engkau punya 9/3 roti (3 roti). Dan temanmu juga makan 8/3 roti, serta dia punya 15/3 roti (5 roti). Temanmu makan 8 bagian roti dan sisa 7 bagian, dan 7 bagian itu dimakan si pemilik dirham. Engkau makan 8 bagian dan sisa 1 bagian, dan 1 bagian itu dimakan si pemilik dirham. Maka bagimu 1 dirham karena si pemilik dirham itu hanya makan 1 bagian roti darimu, dan bagi temanmu 7 dirham karena si pemilik dirham itu makan 7 bagian roti dari temanmu.”

“Sekarang saya ridha.” kata si pemilik 3 roti.
(Tarikh al-Khulafa’ hal 143-144)

Subhanallah, kisah yang begitu sangat inspiratif dan motivatif tentang sebuah keadilan. Dan juga menunjukkan kecerdasan matematika shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala a’nhu. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin

(sumber: Buletin Risalah IPMB ke-001 kolom Fawaid)

artikel: pelajar-ipmb.net

Jumat, 13 November 2015

Akhlaq dan Adab


 Mendo’akan Ibu dan Ayah


Kadang kala kita lupa bahkan kita tidak pernah mendo’akan kebaikan untuk kedua orang tua kita. Maka ini merupakan akhlak yang kurang baik yang hendaknya kita jauhi. Seorang anak yang shalih dan shalihah yang ingin berbuat baik kepada Ayah Ibunya, hendaklah juga mendo’akan kedua orang tuanya. Karena berbakti tidak hanya berbuat baik kepada keduanya, akan tetapi juga mendo’akan keduanya.

Masihkah kita ingat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻧﻘﻄﻊ ﻋﻨﻪ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻ ﻣﻦ
ﺛﻼﺛﺔ: ﺇﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔ ﺟﺎﺭﻳﺔ، ﻭ ﻋﻠﻢ ﻳﻨﺘﻔﻊ ﺑﻪ، ﻭ
ﻭﻟﺪ ﺻﺎﻟﺢ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻪ

“Apabila seseorang telah meninggal dunia maka terputuslah semua amal perbuatannya, kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shalih yang selalu mendo’akannya.”
(HR Muslim 5/73)


Dengan kita mendo’akan kedua orang tua kita, maka sejatinya itulah juga yang akan bermanfaat di akhirat kelak bagi kedua orang tua kita.

Seyogyanya kita mendo’akan kebaikan kepada Ayah Ibu kita. Kita mohonkan ampun kepada Allah untuk keduanya. Kita tengadahkan tangan kita kepada Allah agar merahmati, mengasihi, menyayangi, menjaga serta meridhoi Ayah Ibu kita.

Kita minta kepada Allah Rabb Yang Maha Kaya agar memberi kemudahan rizqi kepada keduanya. Dan juga kita meminta kepada Allah agar keduanya dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga.,

Rabbighfirliy waliwaalidayya warchamhumaa kamaa rabbayaaniy shaghiira..

Allahu a’lam
Semoga bermanfaat.,

artikel: pelajar-ipmb.net

Akhlaq dan Adab

 

3 untuk Ibu dan 1 untuk Ayah


Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa berbakti kepada kedua orang tua hukumnya adalah wajib. Seorang anak wajib mentaati kedua orang tuanya selama bukan dalam hal kemaksiatan. Seorang anak wajib melakukan segala yang diperintahkan kedua orang tua selama bukan dalam perkara yang dilarang.

Betapa sering kita tidak mengindahkan hal ini. Betapa sering kita merasah gundah ketika Ayah Ibu kita menyuruh kita untuk membelikan sesuatu ke warung misalnya. Kita disuruh membelikan gula misalnya. Malah kita lebih berat asyik nonton film, malah kita lebih suka mainan HP, dan malahan-malahan yang lainnya.

Walaupun kita berangkat, lebih sering kita bermuka masam, lebih sering kita ngomel dahulu, lebih sering kita malah menyalahkan kedua orang tua kita. Dan kesemua ini menyakitkan hati Ayah Ibu kita. Untuk itu marilah kita ubah sikap kita, marilah kita benahi akhlak kita agar kita bisa membuat Ayah Ibu kita senang, membuat Ayah Ibu kita bangga. Salah satu contohnya ketika kita disuruh, maka sesegera mungkin kita laksanakan perintah itu.

Ayah dan Ibu memang sudah kita tahu bahwa dengan sebab merekalah kita ada di dunia ini. Dan dari hal ini ada orang yang peranannya sangat dahsyat pentingnya kepada kita, yaitu seorang ibu. Dimana seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi anaknya ketika melahirkan. Lihatlah ketika proses kelahiran. Betapa ibu berusaha sekuat tenaga agar anaknya bisa terlahir. Ketika ada peristiwa kalau yang selamat diantara anak dan ibu adalah salah satu dari keduanya, maka dengan ikhlasnya dan dengan tulusnya Ibu akan mengatakan agar anaknya yang selamat. ya inilah Ibu.

Kita renungi firman Allah Ta’ala dalam surah Luqman ayat 14:

ﻭَﻭَﺻَّﻴْﻨَﺎ ﺍﻹﻧْﺴَﺎﻥَ ﺑِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻪِ ﺣَﻤَﻠَﺘْﻪُ ﺃُﻣُّﻪُﻭَﻫْﻨًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﻫْﻦٍ ﻭَﻓِﺼَﺎﻟُﻪُ ﻓِﻲ ﻋَﺎﻣَﻴْﻦِ ﺃَﻥِﺍﺷْﻜُﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻚَ ﺇِﻟَﻲَّ ﺍﻟْﻤَﺼِﻴﺮُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Dari ayat ini kita tahu kewajiban birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Dan juga bagaimana Allah menyebutkan tentang keutamaan seorang ibu. diantaranya:

1. kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada ibu-bapak.
2. ibu kita telah mengandung kita dalam kondisi lemah.
3. dan ibu yang menyapih kita.

kita dapatkan Ibu disebutkan 3 keutamaan sedangkan Ayah disebutkan 1 keutamaan. Ya inilah utamanya seorang ibu dari seorang ayah. Ibu banyak merasakan keletihan daripada seorang ayah. Dan banyak lagi.

Kita simak juga dalam sebuah hadits dari shahabat Nabi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku.?’
beliau menjawab, ‘Ibumu’
dia bertanya lagi, ‘kemudian siapa?’
beliau menjawab, ‘Ibumu’
dia bertanya lagi, ‘kemudian siapa.?’
beliau menjawab, ‘Ibumu’
dia bertanya lagi, ‘kemudian siapa?’
beliau menjawab, ‘kemudian ayahmu.”
(HR Bukhari no. 5514)

Dari hadits ada faedah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menjelaskan begitu agungnya begitu mulianya seorang ibu.,

Yang terakhir para ulama’ menyebutkan 3 hal yang seorang ayah tidak merasakan dalam mendapatkan anak:

1. lelahnya seorang ibu ketika hamil.
2. tatkala seorang ibu melahirkan.
3. tatkala seorang ibu menyusui.

Inilah penjelasan tentang keutamaan ibu. Akan tetapi bukan berarti kita melalaikn berbakti kepada ayah.

Allahu a’lam
semoga bermanfaat.

artikel: pelajar-ipmb.net

Akhlaq dan Adab


Berbakti Kepada Kedua Orang Tua



Orang tua adalah orang yang pertama kali berbuat baik kepada anaknya. Semenjak di kandungan bahkan sampai dewasa pula. Orang tua adalah orang yang rela berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, sampaipun mengorbankan nyawanya. Orang tua adalah orang yang rela melakukan apa saja demi kebaikan anaknya.

Terus, sudahkah kita berbuat baik kepada kedua orang tua kita.? sudahkah kita berbakti kepada keduanya.?

Allah Azza wa Jalla berfirman di dalam surah al isra’ ayat 23-24:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” “

Di sini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Allah menyandingkan agar kita tidak berbuat syirik atau agar kita mentauhidkan Allah dengan berbakti kepada kedua orang tua. Inilah agungnya berbakti kepada orang tua. Itu artinya Allah menyuruh kita setelah mentauhidkan Allah, agar
 kita berbakti kepada Ayah Bunda kita.

Berbuat baik atau berbakti di sini adalah dari semua sisi termasuk perkataan dan perbuatan. Karena dengan sebab orang tualah kita ada di dunia ini. dan juga atas cintanya dan perbuatan baiknya kepada kita.

Allah juga menjelaskan bahwa kita tidak boleh mengatakan kepada Ayah Ibu kita perkataan “ah” atau “cih” atau yang semakna dengan itu. Ini saja Allah mengharamkan apalagi sampai membentak keduanya. Ini saja termasuk durhaka kepada Ayah Ibu apalagi sampai mengeraskan suara kepada mereka. Maka hendaklah kita bertutur kata yang baik. Melembutkan suara, berperangai yang baik ketika hendak berbicara dengan keduanya.

kemudian mari di setiap tangan kita menengadah berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla kita do’akan Ayah Ibu kita. Kita do’akan ampunan untuk keduanya. kita do’akan agar Allah merahmati keduanya. kita do’akan agar Allah menjauhkan keduanya dari api neraka dan memasukkannya ke dalam surga. kita do’akan dan kita do’akan untuk kebaikan Ayah Ibu kita.,

Allahu a’lam.,
semoga bermanfaat..

artikel: pelajar-ipmb.net

Fawaid

Ilmu Lebih Mulia daripada Harta


Khalifah keempat shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah berkata:

.:”Ilmu itu lebih baik daripada harta.

.: Ilmu itu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya.

.: Ilmu itu semakin berkembang jika diinfaqkan, sedangkan harta akan berkurang jika dinafkahkan.

.: Ilmu adalah yang mengaturmu, sedangkan harta engkaulah yang akan mengaturnya.

.: Mencintai ilmu adalah agama yang seseorang itu beribadah dengannya.

.: Ilmu akan membuahkan ketaatan di dalam kehidupan pemiliknya serta mengharumkan namanya setelah ia meninggal dunia.

.: Kebaikan para pemelihara harta akan melenyap bersamaan dengan kepergiannya.

.: Para penimbun harta (pada hakikatnya) telah mati (meskipun) mereka itu masih hidup.

.: Adapun para Ulama’ tetap kekal sepanjang masa. Jasad mereka telah tiada, namun kenangan tentang mereka senantiasa melekat di hati manusia.”

(Durus fiil Qira’ah al Mustawa rabi’)

artikel: pelajar-ipmb.net

Aqidah

Macam-macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah, adalah Islam, Iman, dan Ihsan. Termasuk pula do’a, khauf (takut), raja’ (rasa harap), tawakal, raghbah (harapan yang sangat), rahbah (takut yang sangat), khusyu’, khasyyah (takut yang didasari ilmu), inabah (kembali dan bertaubat), isti’anah (meminta pertolongan), isti’adzah (meminta perlindungan), istighatsah, dzabh (sembelihan), nadzar, dan selainnya dari macam-macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah, semua ibadah tersebut hanyalah dipersembahkan untuk Allah semata.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻟﻠﻪ ﻓﻼ ﺗﺪﻋﻮﺍ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪﺍ

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik dan untuk Allah, maka janganlah kalian berdo’a bersama Allah dengan sesuatupun.”
(surah al-jin 18)

Sehingga barangsiapa yang memalingkan dan mempersembahkan ibadah-ibadah tersebut sedikit saja kepada selain Allah, maka dla telah musyrik kafir.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﻣﻦ ﻳﺪﻉ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻬﺎ ءﺍﺧﺮ ﻻ ﺑﺮﻫﻦ ﻟﻪ ﺑﻪ ﻓﺈﻧﻤﺎ ﺣﺴﺎﺑﻪ ﻋﻨﺪ ﺭﺑﻪ ﺇﻧﻪ ﻻ ﻳﻔﻠﺢ ﺍﻟﻜﻔﺮﻭﻥ

“Dan barangsiapa beribadah kepada selain Allah bersama Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”
(surah al-mu’minun 117)

Dan di dalam hadits:

ﺍﻟﺪﻋﺎء ﻣﺦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ

“Do’a adalah inti ibadah.”

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺑﻜﻢ ﺍﺩﻋﻮﻧﻲ ﺃﺳﺘﺠﺐ ﻟﻜﻢ ﺇﻥ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺴﺘﻜﺒﺮﻭﻥ ﻋﻦ ﻋﺒﺎﺩﺗﻲ ﺳﻴﺪﺧﻠﻮﻥ ﺟﻬﻨﻢ ﺩﺍﺧﺮﻳﻦ

“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan do’a kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku ia akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.”
(surah ghafir 60)

Dalil yang menyatakan bahwa khauf (rasa takut) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻓﻼ ﺗﺨﺎﻓﻮﻫﻢ ﻭﺧﺎﻓﻮﻥ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﻣﺆﻣﻨﻴﻦ

“Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
(surah ali imron 175)

Dalil yang menyatakan bahwa raja’ (berharap) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺮﺟﻮﺍ ﻟﻘﺎء ﺭﺑﻪ ﻓﻠﻴﻌﻤﻞ ﻋﻤﻼ ﺻﻠﺤﺎ ﻭﻻ ﻳﺸﺮﻙ ﺑﻌﺒﺎﺩﺓ ﺭﺑﻪ ﺃﺣﺪﺍ

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”
(surah al-kahfi 110)

Dalil yang menyatakan bahwa tawakal termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺘﻮﻛﻠﻮﺍ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﻣﺆﻣﻨﻴﻦ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
(surah al-maidah 23)

Dan firman Allah ta’ala:

ﻭﻣﻦ ﻳﺘﻮﻛﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺣﺴﺒﻪ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”
(surah ath-thalaq 3)

Dalil yang menyatakan bahwa raghbah, rahrab, dan khusyu’ termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﺇﻧﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﺴﺮﻋﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻴﺮﺕ ﻭﻳﺪﻋﻮﻧﻨﺎ ﺭﻏﺒﺎ ﻭﺭﻫﺒﺎ ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻟﻨﺎ ﺧﺸﻌﻴﻦ

“Sesungguhnya mereka (para nabi) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.”
(surah al-anbiya’ 90)

Dalil yang menyatakan bahwa khasyyah termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻓﻼ ﺗﺨﺸﻮﻫﻢ ﻭﺍﺧﺸﻮﻧﻲ

“Maka janganlah kalian takut kepada mereka akan tetapi takutlah kepada-Ku saja.”
(surah al-baqarah 150)

Dalil yang menyatakan bahwa inabah termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﺃﻧﻴﺒﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﺭﺑﻜﻢ ﻭﺃﺳﻠﻤﻮﺍ ﻟﻪ

“Dan kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah diri lagi kepada-Nya.”
(surah az-zumar 54)

Dalil yang menyatakan bahwa isti’anah (meminta pertolongan) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﺇﻳﺎﻙ ﻧﻌﺒﺪ ﻭﺇﻳﺎﻙ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
(surah al-fatihah 5)

Dan dalam hadits:

ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﻌﻨﺖ ﻓﺎﺳﺘﻌﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ

“Jika engkau ber-isti’anah (meminta pertolongan) maka isti’anah-lah kepada Allah.”
(HR at-tirmidzi)

Dalil yang menyatakan bahwa isti’adzah (meminta perlindungan) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻔﻠﻖ

“Katakanlah, ‘aku ber-isti’adzah (berlindung) kepada Rabb yang menguasai shubuh.’ “
(surah al-falaq 1)

Dan firman Allah ta’ala:

ﻗﻞ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺮﺏ ﺍﻟﻨﺎﺱ

“Katakanlah, ‘aku berlindung kepada Rabb manusia.’ “
(surah an-naas 1)

Dalil yang menyatakan bahwa istighatsah termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﺇﺫﺍ ﺗﺴﺘﻐﻴﺜﻮﻥ ﺭﺑﻜﻢ ﻓﺎﺳﺘﺠﺎﺏ ﻟﻜﻢ

“Ingatlah ketika kalian ber-istighatsah (memohon pertolongan) kepada Rabb kalian, lalu Dia mengabulkannya.”
(surah al-anfal 9)

Dalil yang menyatakan bahwa dzabh (menyembelih) termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻗﻞ ﺇﻥ ﺻﻼﺗﻲ ﻭﻧﺴﻜﻲ ﻭﻣﺤﻴﺎﻱ ﻭﻣﻤﺎﺗﻲ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﻦ، ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ﻭﺑﺬﻟﻚ ﺃﻣﺮﺕ

“Katakanlah, ‘sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri.’ “
(surah al-anfal 162-163)

Dan dalil dari sunnah:

ﻟﻌﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺫﺑﺢ ﻟﻐﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”

Dalil yang menyatakan bahwa nadzar termasuk ibadah adalah firman Allah ta’ala:

ﻳﻮﻓﻮﻥ ﺑﺎﻟﻨﺬﺭ ﻭﻳﺨﺎﻓﻮﻥ ﻳﻮﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺷﺮﻩ ﻣﺴﺘﻄﻴﺮﺍ

“Mereka menunaikan nadzar dan takut terhadap suatu hari yang adzabnya merata dimana-mana.”
(surah al-ihsan 7)

[ats-tsalatsatul ushul hal 8-13]

artikel: pelajar-ipmb.net

Aqidah

Ketahuilah -semoga Allah membimbing anda untuk taat kepada-Nya- bahwasanya al-hanifiyyah adalah agama nabi Ibrahim alaihissalam yaitu anda beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Untuk tujuan inilah Allah memerintahkan seluruh manusia dan menciptakan mereka.

Sebagaimana firman Allah ta’ala:

ﻭﻣﺎ ﺧﻠﻘﺖ ﺍﻟﺠﻦ ﻭﺍﻹﻧﺲ ﺇﻻ ﻟﻴﻌﺒﺪﻭﻥ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(surah adz-dzariyat 56)

Makna (ﻟﻴﻌﺒﺪﻭﻥ) “beribadah kepada-Ku.” yaitu “mentauhidkan-Ku.”

Perkara utama yang Allah perintahkan adalah tauhid yaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Sedangkan larangan terbesar yang Allah larang adalah syirik yaitu beribadah kepada Allah dan selain-Nya sekaligus.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﺍﻋﺒﺪﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺗﺸﺮﻛﻮﺍ ﺑﻪ ﺷﻴﺌﺎ

“Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
(surah an-nisa’ 36)

Apabila anda ditanya, “Apakah al-ushul ats-atsalatsah (tiga landasan pokok) yang wajib diketahui oleh manusia?”

Maka jawablah, “Seorang hamba mengenal Rabbnya, agamanya, dan nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Apabila anda ditanya, “Siapakah Rabb anda?”

Maka jawablah, “Rabb-ku adalah Allah yang memeliharaku dan memelihara seluruh alam semesta dengan berbagai kenikmatan-Nya. Dialah sesembahanku, tidak ada sesembahan bagiku selain-Nya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﻠﻤﻴﻦ

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”
(surah al-fatihah 2)

Segala sesuatu selain Allah adalah alam dan aku adalah salah satu bagian dari alam tersebut.

Apabila anda ditanya, “Dengan apa anda mengenal Rabb anda?”

Maka jawablah, “Dengan ayat-ayat dan tanda-tanda-Nya serta dengan para makhluk-Nya. Diantara ayat-ayat dan tanda-tanda itu adalah adanya malam, siang, matahari, dan bulan. Dan diantara para makhluk-Nya adalah tujuh langit, tujuh bumi, dan segala yang berada diantara keduanya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﻣﻦ ءﺍﻳﺘﻪ ﺍﻟﻴﻞ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻭﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮ ﻻ ﺗﺴﺠﺪﻭﺍ ﻟﻠﺸﻤﺲ ﻭﻻ ﻟﻠﻘﻤﺮ ﻭﺍﺳﺠﺪﻭﺍ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻘﻬﻦ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﺇﻳﺎﻩ ﺗﻌﺒﺪﻭﻥ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, bulan. Janganlah kalian menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang telah menciptakannya, jika kalian benar-benar hanya beribadah kepada-Nya.”
(surah fushshilat 37)

Dan firman Allah ta’ala:

ﺇﻥ ﺭﺑﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺧﻠﻖ ﺍﻟﺴﻤﻮﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ ﻓﻲ ﺳﺘﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﻳﻐﺸﻰ ﺍﻟﻴﻞ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ ﻳﻄﻠﺒﻪ ﺣﺜﻴﺜﺎ ﻭﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺍﻟﻘﻤﺮ ﻭﺍﻟﻨﺠﻮﻡ ﻣﺴﺨﺮﺕ ﺑﺄﻣﺮﻩ ﺃﻻ ﻟﻪ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻭﺍﻷﻣﺮ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺰﻣﻴﻦ

“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap bagi kalian, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghasilkan segala buah-buahan dengan hujan itu sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu janganlah kalian membuat tandingan-tandingan bagi Allah padahal kalian mengetahui.”
(surah al-baqarah 21-22)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Pencipta segala sesuatu inilah Dzat yang berhak untuk diibadahi dan disembah.”

[ats-tsalatsatul ushul hal 4-8]

artikel: pelajar-ipmb.net

Nashihah

Untaian Nasehat Emas bagi Penuntut Ilmu



Salah Seorang Ulama’ yaitu al-Imam al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit al-Baghdady lebih dikenal dengan nama al-Khatib al-Baghdady rahimahullah pernah mengatakan:


ﺇﻧﻲ ﻣﻮﺻﻴﻚ ﻳﺎ ﻃﺎﻟﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺈﺧﻼﺹ ﺍﻟﻨﻴﺔ ﻓﻲ ﻃﻠﺒﻪ، ﻭﺇﺟﻬﺎﺩ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﻤﻮﺟﺒﻪ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺷﺠﺮﺓ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺛﻤﺮﺓ، ﻭﻟﻴﺲ ﻳﻌﺪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺑﻌﻤﻠﻪ ﻋﺎﻣﻼ

“Aku memberi wasiat kepadamu wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan berusaha keras untuk mengamalkannya.

Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak akan dianggap sebagai orang yang berilmu apabila tidak mengamalkan ilmunya.”

(I’tidha-ul-ilmi wal ‘amal lil-khatib al-baghdady (14)

artikel www.pelajar-ipmb.net

Nashihah

Mencari Kawan Sejati

Seorang ulama’ bernama al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

إذا أردت أن تصادق صديقا فأغضبه فإن رأيته كما ينبغي فصادقه وهذا اليوم مخاطرة؛ لأنك إذا أغضبت أحدا صار عدوا في الحال، والسبب في نسخ حكم الصفاء أن السلف كانت همتهم الآخرة وحدها فصفت نياتهم في الأخوة والمخالطة فكانت دينا لا دنيا،والآن فقد استولى حب الدنيا على القلوب

“Jika engkau ingin mencari kawan sejati maka lakukan hal yang membuat dia tersinggung. Jika engkau lihat orang tersebut bersikap sebagaimana mestinya maka jadikanlah dia sebagai kawan dekat.

Namun, hal di atas tidak lagi berlaku di zaman ini. Kiat di atas mengandung resiko. Zaman ini, jika engkau melakukan hal yang membuat dia tersinggung maka dia langsung berubah menjadi musuh seketika itu juga.

Penyebab perubahan ini adalah orientasi hidup ulama’ salaf adalah akhirat semata. Oleh karena itu, niat mereka di dalam bersaudara dan berinteraksi adalah niat yang tulus. Sehingga perkawanan itu bernilai agama (akhirat) bukan dunia.

Lain halnya kondisi sekarang, hati demikian dikuasai oleh cinta dunia.”

(al-adab asy-syar’iyyah karya Ibnu Muflih al-Hanbali 4/296)

artikel: www.pelajar-ipmb.net

Kamis, 12 November 2015

Kenapa Kita Tidak Semangat Lagi Berdakwah ?

Diantara sebabnya adalah karena niat kita..

Marilah sama-sama kita selalu perbaiki niat kita dalam menuntut ilmu maupun berdakwah.. marilah sama-sama kita saling menasehati dalam hal itu.. karena kadang kala niat kita bisa berubah-ubah..

Untuk sama-sama kita luruskan niat kita, agar selalu semangat berdakwah.. janganlah niat kita agar orang-orang memalingkan pandangannya kepada kita, atau karena kedudukan, atau karena jabatan, atau karena sanjungan, atau karena dunia, atau karena sebab-sebab yang lainnya selain mengaharap wajah Allah..

Tidakkah hati kita tergetar dengan firman Rabb Yang Maha Kaya yang artinya:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (2) أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا 
لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (3)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”
(Surah Az-Zumar: 2-3)

dan juga firman Allah:

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”
(Surah Al-An’aam: 162-163)

dari dua ayat ini jelas, bahwa kita diperintahkan untuk menujukan semua amalan kita karena Allah, bukan yang lain..

di sinilah yang harus kita jaga.. mari saling menasehati untuk meluruskan niat.. karena menjaga niat memang susah.. dan syarat diterimanya amalaN cuma ada dua:

1. Ikhlas karena Allah Ta’ala

2. Ittiba’ atau sesuai tuntunan Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam

jika ikhlas saja, tapi tidak sesuai tuntunan Rasulullah maka amalan itu sia-sia, begitu juga apabila Ittiba’ saja tapi tidak ikhlas maka amalan itupun juga sia-sia..

maka mari kita jaga niat kita bukan karena dunia ataupun manusia..

inilah diantara sebab kenapa kita mulai malas berdakwah..

untuk yang terakhir lirikkan mata kita sejenak perkataan salah seorang ulama’ As Suusy rahimahullahu ta’ala:

“Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barang siapa yang menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi.”

semoga yang sedikit ini bermanfaat..

Allahu a’lam..

artikel: www.pelajar-ipmb.net

Rabu, 11 November 2015

Mengapa Kita Harus Semangat Berdakwah ?

Berdakwah mengajak kembali kepada Allah Ta’ala adalah amalan yang menuai banyak manfaat.. diantara manfaatnya adalah..

1. Berdakwah adalah sebuah kemuliaan

kok bisa dakwah adalah sebuah kemuliaan.. jawabannya tengokkan mata kita pada firman Allah dalam surah Fushshilat ayat 33 ini:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

2. Berdakwah adalah bisnis
bisnis.?? maksudnya gimana..?? ini lho maksudnya..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2674)

iya nggak..?? dakwah adalah bisnis.. alias bisnis pahala… kalau yang biasa kita dengar kan MLM (Multi Level Marketing), dan di di dalam dakwah ada MLD (Multi Level Dakwating)..

kalau kita mengajak teman kita untuk kembali kepada Allah, maka kita akan terus mendapat pahala seperti pahala teman kita yang mengikuti ajakan kita tanpa mengurangi pahalanya.. dan apabila teman yang kita ajak juga berdakwah mengajak temannya, maka kita juga tetap akan mendapat pahala darinya tanpa mengurangi pahalanya juga.. sampai hari kiamat… hmmm.. ternyata dakwah itu nikmat yaa..

jadi jangan sia-siakan kesempatan ini.. selama jantung kita masih bisa berdetak..

Allahu a’lam
semoga bermanfaat..

artikel: pelajar-ipmb.net

Ikatlah Ilmu

Ikatlah ilmu yang anda dapatkan dengan mencatatnya

Mencari ilmu layaknya memburu buruan. Ketika kita mendapat atau menangkap buruan, pastinya kita akan mengikatnya agar tidak lari. Begitu juga ilmu, apabila kita mendapatkan ilmu, agar tidak mudah lari, hendaklah kita mengikatnya yaitu dengan mencatatnya.

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau lebih dikenal dengan Imam Syafi’i rahimahullah (wafat 204 H) pernah mengatakan dalam sya’irnya,
ﺍﻟﻌِﻠْﻢُ ﺻَﻴْﺪٌ ﻭَﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺑَﺔُ ﻗَﻴْﺪُﻩُ … ﻗَﻴِّﺪْ ﺻُﻴُﻮْﺩَﻙَ ﺑِﺎﻟﺤِﺒَﺎﻝِ ﺍﻟﻮَﺍﺛِﻘَﺔْ
ﻓَﻤِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻤَﺎﻗَﺔِ ﺃَﻥْ ﺗَﺼِﻴْﺪَ ﻏَﺰَﺍﻟَﺔً … ﻭَﺗَﺘْﺮُﻛْﻬَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﺨَﻼَﺋِﻖِ ﻃَﺎﻟِﻘَﻪْ

“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja”
(diwan asy-syafi’i 103)

Iman Hasan al-Bashri rahimahullah juga pernah mengatakan:
ﻣَﺎ ﻗَﻴْﺪُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ
“Tidak ada pengikat ilmu yang lebih kuat dibanding dengan tulisan.”
(taqyidul ilmi 109)

Imam adh-Dhahhak rahimahullah juga pernah mengatakan:

ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻌْﺖَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﺎﻛْﺘُﺒْﻪُ ﻭَﻟَﻮْ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﺤَﺎﺋِﻂِ
“Bila engkau mendengar suatu (ilmu), maka segera tulis ilmu itu meskipun di tembok.”
(taqyidul ilmi 100)

Ketika mendapatkan ilmu walaupun cuma sedikit, seperti mendengarkan kajian, atau bertanya, atau membaca tulisan, selayaknyalah seorang penuntut ilmu mengikatnya dengan tulisan.
Mungkin dengan mengikatnya dengan menulis di buku khusus. Buku yang hanya untuk menulis faidah dari ilmu yang didapatkan atau dengan cara yang lainnya.

artikel: www.pelajar-ipmb.net

Sabtu, 07 November 2015

Aqidah

Ketahuilah -semoga Allah merahmati anda- sesungguhnya wajib bagi kita untuk mempelajari 4 perkara:
1. Ilmu, yaitu ma’rifatullah (mengenal Allah), ma’rifatu nabiyihi (mengenal nabi-Nya), ma’rifatu dinil islam (memahami agama islam) dengan dalil-dalilnya.
2. Beramal dengannya.
3. Berdakwah kepadanya.
4. Bersabar atas gangguan yang ada padanya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ، ﺇﻥ ﺍﻹﻧﺴﻦ ﻟﻔﻲ ﺧﺴﺮ، ﺇﻻ ﺍﻟﺬﻳﻦ ءﺍﻣﻨﻮﺍ ﻭﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﻠﺤﺖ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺍ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺍ ﺑﺎﻟﺼﺒﺮ

“Demi masa, sesungguhnya semua manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.” (surah al-‘ashr 1-3)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya selain surah ini, niscaya surah ini telah cukup bagi mereka.”
Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bab berilmu sebelum berucap dan beramal.”
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ ﻟﺬﻧﺒﻚ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan mintalah ampunan atas dosamu.” (surah muhammad 19)

Allah mendahulukan dan memulai dengan ilmu sebelum berucap dan beramal.”
Ketahuilah -semoga Allah merahmati anda- bahwasanya wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun wanita untuk mengetahui dan mengilmui 3 perkara berikut kemudian mengamalkannya.
1. Sesungguhnya Allah telah menciptakan kita dan memberikan rezeki kepada kita. Kemudian Allah tidak membiarkan dan menelantarkan kita tanpa tujuan, bahkan Allah telah mengutus seorang rasul kepada kita. Maka barangsiapa yang mentaatinya, ia akan masuk surga. Barangsiapa mendurhakainya, ia akan masuk neraka.
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﺇﻧﺎ ﺃﺭﺳﻠﻨﺎ ﺇﻟﻴﻜﻢ ﺭﺳﻮﻻ ﺷﻬﺪﺍ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻛﻤﺎ ﺇﺭﺳﻠﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺭﺳﻮﻻ، ﻓﻌﺼﻰ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻓﺄﺧﺬﻧﻪ ﺃﺧﺬﺍ ﻭﺑﻴﻼ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul sebagai saksi atas kalian sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada fir’aun. (Tetapi) fir’aun mendurhakai rasul tersebut maka Kami timpakan kepadanya adzab yang berat.” (surah al-muzzammil 15-16)

2. Sesungguhnya Allah tidak ridha dan rela terhadap orang yang berbuat syirik dan menyekutukan-Nya dalam beribadah, sama saja apakah dia menyekutukan Allah dengan malaikat muqarrabun (yang didekatkan) ataupun nabi yang diutus.
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻟﻠﻪ ﻓﻼ ﺗﺪﻋﻮﺍ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪﺍ

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik dan untuk Allah, maka janganlah kalian berdo’a kepada sesuatupun disamping berdo’a kepada Allah.” (surah al-jin 18)


3. Sesungguhnya barangsiapa yang menaati rasul dan mentauhidkan serta mengesakan Allah, tidak boleh baginya untuk ber-wala’ (loyal mencintai dan menjadikan sebagai pemimpin) kepada orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, walaupun mereka adalah kerabat terdekatnya.
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

ﻻ ﺗﺠﺪ ﻗﻮﻣﺎ ﻳﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻷﺧﺮ ﻳﻮﺍﺩﻭﻥ ﻣﻦ ﺣﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮﺍ ءﺍﺑﺎءﻫﻢ ﺃﻭ ﺃﺑﻨﺎءﻫﻢ ﺃﻭ ﺇﺧﻮﻧﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﺸﻴﺮﺗﻬﻢ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﻛﺘﺐ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﺍﻹﻳﻤﻦ ﻭﺃﻳﺪﻫﻢ ﺑﺮﻭﺡ ﻣﻨﻪ ﻭﻳﺪﺧﻠﻬﻢ ﺟﻨﺖ ﺗﺠﺮﻱ ﻣﻦ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﺍﻷﻧﻬﺮ ﺧﻠﺪﻳﻦ ﻓﻴﻬﺎ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﺭﺿﻮﺍ ﻋﻨﻪ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺣﺰﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻻ ﺇﻥ ﺣﺰﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻢ ﺍﻟﻤﻔﻠﺤﻮﻥ

“Engkau tidak akan mungkin menjumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir sementara mereka berkasih sayang terhadap orang-orang yang menentang Allah dan rasul-Nya, baik dari kalangan bapak-bapak mereka, anak-anak, saudara-saudara atau keluarga-keluarga mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan dalam hati mereka kemudian Allah kuatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dan Allah akan masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka akan kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha kepada-Nya. Merekalah tentara dan pembela Allah. Sungguh, para pembela dan tentara Allah-lah yang pasti akan menang lagi beruntung.” (surah al-mujadilah 22)

[ats-tsalatsatul ushul hal 1-4]

artikel: pelajar-ipmb.net

Jumat, 06 November 2015

as-Sunnah an-Nabawiyah



Pahala Mengunjungi Saudara Karena Allah

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم:
أن رجلا زار أخا له في قرية أخرى فأرصد الله له على مدرجته ملكا فلما أتى عليه وقال: أين تريد؟
قال: أريد أخا لي في هذه القرية.
قال: هل لك عليه من نعمة تربها؟
قال: لا غير أني أحببته في الله عز وجل.
قال: فإني رسول الله إليك بأن الله قد أحبك كما أحببته فيه
 
(‘an Abi Huroirota radhiyallahu ‘anhu ‘anin-Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallama:

 
 ‘Anna rojulan zaaro akhon lahu fii qoryatin ukhroo fa-arshodallahu lahu ‘alaa mad-rojatihi malakan falammaa ataa ‘alaihi qoola: aina turiidu?
Qoola: uriidu akhon lii fii hadzihil-qoryati
Qoola: hal laka ‘alaihi min ni’matin tarubbuhaa?
Qoola: laa ghoiro anniy achbabtuhu fiillahi ‘azza wa jalla
Qoola: fa-inniy rasulullahi ilaika bi-annallaha qod achabbaka kamaa achababtahu fiihi)

”dari Abu Hurairah radhiyallallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
‘Bahwa ada seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di kota lain. Maka Allah mengutus malaikat mengintai perjalanannya. Ketika ketemu, malaikat bertanya kepadanya, ‘Kemana kamu hendak pergi?’
Ia menjawab, ‘Aku hendak menemui saudaraku di kota ini.
Malaikat bertanya, ‘Apakah karena engkau berhutang budi padanya?’
Ia menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah.’
Malaikat berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.”

(Hadits shahih, diriwayatkan Imam Muslim no 2567)

Terjemah belajar bahasa arab:
(عن) dari
(أبي هريرة) Abu Hurairah
(رضي الله عنه) radhiyallahu ‘anhu
(عن) dari
(النبي) Nabi
(صلى الله عليه وسلم) shallallahu ‘alaihi wa sallam
(أن) bahwa
(رجلا) ada seorang laki-laki
(زار) mengunjungi
(أخا له) saudaranya
(في) di
(قرية أخرى) kota lain
(فأرصد الله) maka Allah mengutus
(على مدرجته) untuk mengintai perjalanannya
(ملكا) malaikat
(فلما أتى عليه) ketika ketemu
(قال) berkata
(أين تذريد؟) kemana kamu hendak pergi
(قال) berkata
(أريد) aku hendak menemui
(أخا لي) saudaraku
(في) di
(هذه القرية) kota ini
(قال) berkata
(هل) apakah
(لك عليه من نعمة تربها؟) engkau berhutang budi padanya
(قال) berkata
(لا) tidak
(غير) melainkan
(أني) sesungguhnya
(أحببته) aku mincintainya
(في الله) karena Allah
(عز وجل) azza wa jalla’
(قال) berkata
(فإني) sesungguhnya aku adalah
(رسول الله) utusan Allah
(إليك) kepadamu
(بأن الله) bahwasanya Allah
(قد أحبك) mencintaimu
(كما) sebagaimana
(أحببته) engkau mencintainya
(فيه) karena Allah

 artikel: www.pelajar-ipmb.net

Kamis, 05 November 2015

Teladan

 Orang Kaya yang Benar-Benar Kaya

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد، أم بعد


Segala puji hanya milik Allah. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam serta para shahabatnya dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh kepada jalanya.
Setiap orang pasti menginginkan menjadi orang yang kaya. Tidak dipungkiri karena setiap jiwa sangatahlah senang akan yang namanya harta dan kekayaan. Allah ta’ala berfirman dalam surah Ali Imron ayat ke 14 :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

 
“dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik”

Dalam surat al-fajr ayat 20:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”
Itulah manusia, secara fitrah ia senang akan semua itu. Bahkan jiwa seorang tidak akan puas tatkala ia di berikan emas satu gunung. Jiwanya merasa kurang dan dorongan ingin memiliki yang lain akan terus ada.
Apakah mereka yang memiliki berbagai macam dalam ayat tersebut dikatakan orang kaya? Kita katakan bisa jadi ia kaya dan bisa jadi ia miskin. Mungkin akal akan bertanya-tanya. Bagaimana bisa tidak dikatakan orang kaya padahal ia memiliki segalanya. Semua hal telah tercukupi bahkan lebih dari cukup.
Wahai saudaraku ingatlah akan sabda Nabi kita Muhammad bin ‘Abdillah shallallahu ‘alihi wa sallam diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

ليس الغنى عن كثرة العرض، ولكن الغنى غنى القلب

“bukanlah kekayaan adalah banyaknya harta benda. Akan tetapi kekayaan adalah kaya hati” (HR. Bukhori)

Kalaulah kita baca bagaimana sejarah Rasulullah dan para shahabatnya mereka hidup dengan sederhana. Bukan berarti mereka tidak memiliki harta benda. Akan tetapi tatkala dunia mendatangi mereka maka mereka bagikan dunia itu kepada yang lainnya sampai habis. Mari kita tengok sebuah atsar dari sahabat ‘Abdullah bin Zubair, beliau menceritakan bagaiman kayanya ibunda kita ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
Diceritakan bahwa tidaklah shahabat ‘Abdullah bin Zubair melihat wanita yang paling dermawan kecuali Ibunda ‘Aisyah dan Asma’ radhiyallahu anhuma. Adalah ‘Aisyah beliau menyimpan harta benda sampai harta itu cukup dibagikan maka beliau membagi harta yang dikumpulkan tersebut sampai habis harta itu. Adapun Asma’ beliau tidaklah menyimpan harta sampai besok kecuali beliau bagikan sampai habis hari itu juga. Subhanallah…… Inilah orang kaya yang benar-benar kaya. Betapa banyak manusia yang Allah berikan kelapangan harta akan tetapi rasa was-was akan kemiskinan ada di depan mata mereka. Wal’iyyadzubillah.

Semua itu terletak di hati kita semua. Rasa cinta akan dunia, tamak akan dunia, selalu merasa kurang dan perasaan lainnya semua itu terletak di hati kita yang lemah ini. Ingatlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam :


إن في الجسد متغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألآ وهي القلب


“Sesungguhnya di dalam jiwa ini ada segumpal darah. Apabila ia baik maka baik pula seluruh jiwanya. Akan tetapi apabila ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah ia dalah HATI”


Pantaslah Rasulullah mengajarkan kepada kita do’a untuk hati yang rapuh ini :


يا مقلب القلوب ثبت قلبي إلى دينك، يا مصرف القلوب صرف قلبي إلى طاعتك 

 

“wahai Rabb yang membolak-balikkan hati tetapkanlah hatiku pada agama-Mu. Wahai Rabb yang merubah-rubah hati rubahlah hatiku pada ketaatan pada-Mu”
Inilah doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk kita agar hati ini selalu ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla.
Wahai saudaraku latihlah jiwa yang lemah ini pada kebaikan. Jika ingin menjadi orang kaya yang sejati maka tirulah Rasulullah, istri beliau, dan juga para shahabat. Semua itu dapat kita capai dengan cara melatih jiwa ini. Mungkin ketika kita lihat harta kita akan berkurang. Ketahuilah bahwa hakikatnya harta kita tidaklah berkurang. Rasulullah bersabda :


ما نقصت صدقة من مال

“Tidaklah berkurang dari harta karna sodaqoh”

Dalam surat Al-Baqoroh ayat 261 yang artinya :
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

Dan salah satu untuk mensucikan jiwa ini adalah dengan bershodaqoh dan berinfaq. Allah berfirman dalam surah al-A’la ayat 14 :

قد أفلح من تزكى

“Sungguh beruntung orang yang mensucikan diri”

Semoga dengan ini kita tergugah untuk menjadi jiwa yang benar-benar kaya. Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita keistiqomahan di jalan-Nya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang beruntung.


وصلى الله على نبينا محمد
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


 artikel: www.pelajar-ipmb.net

FAWAID


 Kisah Dulunya Perampok Jadi Ulama'


Teman-teman yang dirahmati Allah ta’ala, Imam adz-Dzahabi rahimahullah menukil sebuah kisah yang sangat menyejukkan hati, yang beliau goreskan di dalam kitabnya Siyar a’lamun Nubala. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu ‘Ammar al-Husain bin Harits dari al-Fadhl bin Musa. Beliau al-Fadhl bin Musa mengisahkan:
“Dahulu al-Fudhail bin ‘Iyadh adalah seorang perampok yang menghadang orang-orang di jalan antara daerah Abiwarda dengan Sarkhos. Sebab taubatnya beliau adalah beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, ketika beliau tengah memanjat tembok untuk menemui (mengintip) wanita tersebut, tiba-tiba beliau mendengar seseorang melantunkan firman Allah ta’ala:

 

(أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ ..)

 
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah..” (surah al-hadid 16)
Maka tatkala beliau mendengar lantunan ayat tersebut, beliau langsung berkata: “Tentu saja wahai Rabb-ku, sungguh telah tiba saatku (untuk tunduk hati mengingat Allah).”
Lalu beliau pun kembali dan beristirahat di sebuah bangunan yang sudah rusak. Tiba-tiba ada sekelompok orang yang sedang lewat.
Sebagian dari mereka mengatakan, “Kita jalan terus.”
Sebagian yang lain mengatakan, “Kita istirahat saja dulu sampai pagi, karena si Fudhail berada di arah jalan kita ini, yang akan menghadang dan merampok kita.”
Mendengar hal itu lalu Fudhail berkata: “Kemudian aku merenung dan berucap, ‘Aku sedang melakukan kemaksiatan di malam hari (yaitu mengintip wanita-pent) padahal sebagian kaum muslimin di sini ketakutan kepadaku (karena mengira Fudhail sedang menghadang mereka-pent) dan menurutku tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini kecuali agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Yaa Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku ini dengan tinggal di Baitul Haram.’ ”

(siyar a’lamun nubala’ juz 8/421)


MasyaAllah, kisah yang penuh dengan ibroh (pelajaran), setelah itu beliau semangat belajar dan menjadi seorang ulama’ pada zaman tabi’in yang dalam ilmunya.
Beliau dilahirkan di Samarqand dan dibesarkan di Abiwarda yaitu suatu daerah di Khurosan. Tidak ada riwayat yang jelas kapan beliau dilahirkan, tetapi beliau pernah menyatakan bahwa umur beliau waktu itu 80 tahun. Setelah taubat, beliau kemudian berjalan menuntut ilmu ke Kufah dan mencatat ilmu di sana lalu melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Mekkah dan menetap di Mekkah hingga beliau wafat pada bulan Muharram tahun 187 H.
Seorang ulama’ bernama Ibnul Mubarok rahimahullah pernah berkata:
“Menurutku, tidak ada yang tersisa lagi di muka bumi ini seorangpun yang lebih utama dari al-Fudhail bin ‘Iyadh.”

(siyar a’lamun nubala’ juz 8/424)

 

 artikel: www.pelajar-ipmb.net

PENUNTUT ILMU


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan,
“telah berkata Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dan atsar ini diriwayatkan secara marfu’ lagi mahfudzh dari Mu’adz:

{عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ . فَإِنَّ تَعْلِيمَهُ حَسَنَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيحٌ وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ وَتَعْلِيمَهُ لِمَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ } فَجُعِلَ الْبَاحِثُ عَنْ الْعِلْمِ مُجَاهِدًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

 
“Wajib atas kalian menuntut ilmu agama ini,
karena mengajarkannya adalah amalan yang baik,
mempelajarinya adalah ibadah,
mengingatnya kembali adalah tasbih,
mengadakan penelitian tentangnya adalah jihad,
mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah shadaqah,
dan mengerahkan segala kesungguhan terhadap ilmu ini dengan mengambilnya dari para ulama merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah.”

Dengan demikian orang yang mengadakan penelitian tentang ilmu agama ini adalah mujahid fii sabilillah.”

[Majmu’ Fatawa jilid 4/109]

   artikel: www.pelajar-ipmb.net